Rabu, 02 Juli 2008

Cak Nur: Dari Pembaharu Sampai Guru Bangsa

Oleh: Hamka Siregar

INNA lillahi wa inna ilahi raji'un! Itulah kata yang pantas kita ucapkan mengiringi kepergian Cak Nur -panggilan akrab Nurcholish Madjid-- menghadap sang Khaliq. Terlepas dari berbagai kontoversi pemikiran yang dilontarkan oleh Cak Nur semasa hidupnya, ia adalah salah satu putra terbaik yang dilahirkan oleh negeri ini. Untuk mengenang beliau, kiranya layak menuliskan beberapa hal yang berkaitan dengan usaha-usaha yang secara gigih diperjuangkan semasa hidupnya. Membincangkan sosok Cak Nur pasti akan tiba kepada hal-hal yang kontroversial, khususnya mengenai upaya-upaya yang dilakukannya untuk menyegarkan pemahaman keagamaan di tanah air ini.

Awalnya, sebagaimana digelari oleh Muhammad Kamal Hasan -seorang intelektual Malaysia yang menulis desertasi mengenai gerakan pembaharuan Islam di Indonesia---Cak Nur adalah "Natsir muda". Pandangan-pandangan keagamaannya dinilai mencerminkan pandangan Muslim idealis. Tetapi, pidato Cak Nur berjudul "Keharusan Pembaharuan Islam dan Masalah Integrasi Umat" pada 3 Januari 1970 di Gedung Pertemuan Islamic Research Centre, Menteng Raya, Jakarta, mengubah segalanya. Cak Nur yang digadang-gadang menjadi penerus cita-cita Natsir, sekonyong-konyong menguap ditelan awan. Pasalnya, pandangannya dianggap telah berubah secara fundamental, terutama karena ia menganjurkan "sekularisasi" sebagai salah satu bentuk "liberalisasi" atau pembebasan terhadap pandangan-pandangan keliru yang telah mapan. Untuk lebih sempurna, kutipan pidato beliau adalah sebagai berikut: "...Sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerangan sekularisme, sebab "sekularisme adalah nama sebuah ideologi, sebuah pandangan dunia tertutup yang baru yang berfungsi sangat mirip dengan agama". Dalam hal ini, yang dimaksudkan ialah setiap bentuk "perkembangan yang membebaskan". Proses pembebasan ini diperlukan karena umat Islam, akibat perjalanan sejarahnya, tidak sanggup lagi membedakan nilai-nilai yang disangkanya Islamis itu, mana yang transendental dan mana yang temporal...".

Istilah "sekularisasi" inilah yang tampaknya yang mengunjangkan jagat pemahaman agama ketika ketika itu. Cak Nur kemudian dituduh sebagai penganut dan penganjur sekularisme. Bahkan, belakangan muncul reaksi-reaksi yang sama sekali tidak ramah dan kurang nyaman didengar dari sebagian komunitas muslim yang tidak sejalan pandangan dan pemahamannya dengan Cak Nur. Istilah GPK (Gerakan Pengacau Keagamaan) misalnya, atau istilah-istilah lainnya yang agak vulgar sering dialamatkan kepada beliau untuk menolak dan menyerang fikiran-fikirannya. Padahal, sebagaimana dalam tulisannya yang sangat elaboratif terhadap tema-tema yang ia lontarkan, jika dibaca secara cermat akan kelihatan bahwa femikirannya memiliki akar yang kuat dengan tradisi intelektual Islam klasik. Sesungguhnya, Cak Nur adalah sedikit orang dari serjana modern yang mampu berkomunikasi dengan khazanah klasik Islam. Mungkin, --tidak bermaksud meninggikan---melampaui kemampuan para Kiyai-kiyai yang mengasuh dan menunggui pondok-pondok pesanteren yang Salafi sekalipun!

Cak Nun -panggilan akrab Emha Ainun Najib---ketika mengomentari fikiran-fikiran Cak Nur yang disebutnya dengan "Thariqat Nurcholisy" mengatakan bahwa fikiran-fikiran Cak Nur adalah sesuatu yang fenomenal yang dibutuhkan oleh zaman semacam ini. Suami Nia Kolopaking ini kemudian melanjutkan: "Kenapa mesti bermuka masam dan berpaling"? Mari terus mendengar ia berazan, memanggil dengan sangat khas dan cemerlang. Ia menyajikan Islam secara Indonesia dan menempatkan Indonesia secara Islam. Aku mendengarnya, kata Cak Nun, seperti mendengar suara lembut dari seorang kekasih! Di samping perjuangannya dalam pembaharuan pemikiran Islam, juga tidak kalah menarik untuk mengungkapkan sisi fikiran-fikiran Cak Nur yang berkaitan dengan visi dan aksi-aksi politiknya. Oleh Fachry Ali -mantan murid yang kemudian menjadi koleganya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta---sampai-sampai menyebut Cak Nur sebagai "Guru Bangsa".

Cak Nur sebagaimana dikatakan oleh Fachry, ketika menjelang lengsernya Pak Harto dari jabatan Presiden, memiliki potensi untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan negeri ini. Dari beberapa sisi Cak Nur memiliki persyaratan yang cukup untuk memimpin bangsa ini. Walaupun diakui bahwa Cak Nur belum berpengalaman dalam pemerintahan, namun dari segi moral dan intelektual ia memiliki keunggulan di tengah-tengah kerinduan masyarakat terhadap munculnya sosok pemimpin yang bersih. Hanya saja, "peluang" tersebut kelihatannya tidak dimanfaatkan oleh Cak Nur karena, kalkulasinya, bukan politik tetapi pertimbangan-pertimbangan moralitas.

Jauh sebelum krisis yang, kemudian, mengakhiri kedigdayaan rezim Orde Baru, Cak Nur telah mengambil posisi politik yang cukup kritis dengan pusat kekuasaan. Berbeda dengan beberapa tokoh "pembangkang" lainnya, Cak Nur menyampaikan ide-ide politiknya dengan memilih bahasa yang moderat sehingga pusat kekuasaan hampir tidak pernah terganggu dengan kritikan-kritikan yang dilontarkannya. Satu ketika ia pernah berujar : "Jangan percayakan nasib bangsa ini kepada niat baik satu dua orang pemimpin. Melainkan kepada sistem yang baik". Adalah jelas dapat dibaca konteks ucapan Cak Nur ini untuk menggugat moralitas rezim yang berkuasa saat itu, yaitu rezim Orde Baru.

Kekuatan moralitas yang demikianlah yang dapat membaca dan memotret fikiran dan aksi-aksi politik Cak Nur sebelumnya. Pernyataannya yang sangat terkenal "Islam Yes, Partai Islam No" merupakan sebuah kritikan terhadap partai-partai Islam ketika itu. Kemudian, kesediaannya menjadi Jurkam PPP bukan Golkar dengan semboyan "memompa ban kempes" adalah upayanya menjaga keseimbangan politik yang ketika itu didominasi Golkar. Pertengahan 80-an, ia berbicara tentang perlunya partai oposisi dan secara terus menerus menyerukan penciptaan demokrasi. Dalam catatan Fachry, Cak Nur adalah orang pertama yang melontarkan fikiran tentang perlunya memikirkan suksesi kepemimpinan nasional yang, ketika itu, fikiran yang demikian dapat dinilai suversif. Selamat jalan sang Pembaharu! selamat tidur panjang Guru Bangsa! Kesederhanaanmu, ketulusannmu akan senantiasa menjadi teladan bagi anak negeri ini. Wallahu'alam!

*) Penulis Dosen STAIN Pontianak

0 komentar: