Kamis, 03 Juli 2008

Kehidupan Kita Sedang Terancam

Oleh : Eta Fanani AR*

Dalam laporan kedua di awal bulan April 2007 lalu, para ilmuwan yang tergabung dalam Panel Ahli untuk Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) telah mempublikasikan sebuah laporan ilmiah tentang pemanasan global dan implikasinya bagi seluruh makhluk yang ada dipermukaan bumi ini. Memang beberapa tahun terakhir ini, kita rasakan dan alami bahwa aktivitas alam kian tidak menentu. Tidak jelasnya periodisitas pergantian musim, terjadinya kemarau panjang, tingginya intensitas hujan, panas yang semakin terik, merebaknya banjir dan tanah longsor serta semakin sering terjadinya angin berkekuatan tinggi di berbagai belahan bumi ini adalah merupakan pertanda bahwa alam sedang mengalami proses perubahan iklim global.

Perubahan iklim merupakan implikasi dari terjadinya pemanasan global yang ditandai dengan naiknya suhu rata-rata permukaan bumi karena akumulasi radiasi sinar matahari yang tertahan dalam lapisan atmosfer. Seperti yang kita ketahui, bahwa manusia menggunakan bahan-bahan alam, seperti minyak bumi, batu bara, gas dan bahan lainnya untuk menunjang berbagai aktivitas kehidupannya. Bahan-bahan alam yang digunakan ini menghasilkan emisi yang disebut gas rumah kaca, yaitu berupa karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan nitrous oksida (N2O). Keberadaan gas-gas ini di atmosfer selain merusak lapisan ozon yang berfungsi sebagai penahan sinar ultraviolet yang berbahaya bagi makhluk hidup, juga memiliki kemampuan mengubah, meneruskan dan memantulkan gelombang sinar radiasi. Disisi lain, secara alami lapisan atmosfer bumi menyerap sinar radiasi panas yang dihasilkan oleh matahari dengan tujuan untuk menjaga suhu bumi agar tetap hangat dan layak bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Namun seiring dengan perkembangan populasi dan kegiatan manusia, konsumsi terhadap bahan-bahan alam semakin tinggi, ini berdampak pada naiknya jumlah emisi gas rumah kaca secara signifikan di atmosfer bumi. Kondisi ini telah menyebabkan terjadinya peningkatan efek selimut rumah kaca, yakni radiasi panas bumi yang lepas ke udara ditahan oleh selimut gas rumah kaca, kemudian dipantulkan kembali ke bumi, sehingga suhu bumi menjadi lebih panas. Jadi, semakin banyak gas rumah kaca dilepas ke udara, semakin tebal selimut bumi, semakin panas pula suhu bumi (Emil Salim, 2002).

Dampak dari perubahan iklim ini telah menimbulkan perubahan lingkungan global yang tentunya merugikan seluruh makhluk hidup yang ada di permukaan bumi. Dengan naiknya suhu bumi, mengakibatkan mencairnya bongkahan-bongkahan es di kutub selatan, kutub utara dan di beberapa puncak gunung yang selama ini dipercaya ditutupi lapisan es abadi.

Mencairnya bongkahan-bongkahan es dalam jumlah besar, akan menambah volume air di permukaan bumi, terutama volume air laut, sehingga tinggi muka air laut akan bertambah. Studi yang dilakukan oleh IPCC menyatakan bahwa dalam 100 tahun terakhir, telah terjadi peningkatan permukaan air laut setinggi 10-25 cm dan diperkirakan pada tahun 2100 peningkatan muka air laut akan mencapai 15-95 cm dibandingkan saat ini (Panjiwibowo, dkk, 2003). Dengan keadaan tersebut, maka banyak daerah pesisir, dataran rendah dan pulau-pulau di dunia, termasuk Indonesia (sekitar 2000 pulau) yang tenggelam, sehingga mengakibatkan jutaan manusia harus bermigrasi ke daerah yang lebih tinggi.

Perubahan iklim juga akan mengakibatkan terganggunya sistem pertanian. Ketidakjelasan periodisitas musim akan menghambat petani dalam mengelola lahan pertanian mereka. Di beberapa daerah, musim kemarau akan semakin panjang, sementara musim hujan semakin pendek. Karena mengalami kekeringan yang berkepanjangan, maka pasokan air untuk mengairi lahan-lahan pertanian menjadi berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali, hal ini akan mengakibatnya terjadinya penurunan produksi atau gagal panen. Begitu juga sebaliknya untuk daerah yang mengalami peningkatan curah hujan, produktivitas pertaniannya akan terhambat. Dalam konteks fisiologi tumbuhan, padi dan serealia lainnya sangat peka terhadap perubahan suhu udara meskipun kecil. Bagian reproduktif yang dinamakan spikelet akan menjadi steril jika suhu meningkat, sehingga mempengaruhi produktivitasnya (Murdiyarso, 2003). Dari kenyataan ini, tidak menutup kemungkinan jutaan manusia akan mengalami kelaparan.

Dalam bidang kesehatan, perubahan iklim yang tidak menentu telah mengganggu siklus metabolisme dan sistem imunitas, sehingga tubuh manusia menjadi rentan terhadap serangan penyakit, seperti malaria, demam berdarah, diare dan kanker. Naiknya suhu bumi juga mempengaruhi sisi psikis manusia. Dalam keadaan cuaca yang panas, terkadang dapat membuat manusia menjadi stress dan lebih mudah terpancing emosinya dalam menghadapi sesuatu.

Akumulasi dari berbagai implikasi yang ditimbulkan oleh perubahan iklim ini adalah terbukanya ruang konflik yang dapat saja mengarah pada prilaku destruktif dalam memperebutkan sumber daya yang masih tersisa. Sebagai contoh, di beberapa daerah yang mengalami kekurangan air akibat kekeringan, akan terjadi perebutan akses terhadap sumber daya air diantara kelompok yang ada. Di tempat yang lain, keterbatasan lahan, baik untuk tempat tinggal maupun sumber penghidupan akan menjadi penyulut lahirnya konflik bagi pihak-pihak yang membutuhkan lahan tersebut.

Mencermati begitu besar dampak negatif yang akan dan telah ditimbulkan oleh perubahan iklim, maka sudah saatnya kita harus bersungguh-sungguh dalam melakukan upaya-upaya mitigasi untuk meminimalisir proses perubahan iklim ini. Karena kalau tidak dimulai dari sekarang, maka bersiap-siaplah menuju kepunahan.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, seperti memperbaiki prilaku dan mentalitas kita dalam mengelola alam ini, mengefisiensikan pemakaian bahan bakar, terutama yang berasal dari fosil seraya mencari sumber energi alternatif, menggunakan produk-produk teknologi yang ramah lingkungan, penghematan dalam penggunaan air, menghijaukan halaman rumah dan memperluas kampanye tentang perubahan iklim. Di level yang lebih luas, perlunya adanya rencana aksi nasional yang integratif tentang Mekanisme Pembangunan Bersih sebagai bentuk manifestasi Kesepakatan Protokol Kyoto dan perlunya menciptakan teknologi yang ramah lingkungan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Akhirnya, Gandhi pernah berkata bahwa "bumi ini bisa mencukupi kebutuhan setiap orang, tapi tak bisa mencukupi orang-orang yang serakah"

(Penulis: Staff Divisi Konservasi Lahan Basah pada Yayasan Konservasi Borneo (YKB)

0 komentar: