Kamis, 03 Juli 2008

Penyiar; Maestro di Depan Microphone

Oleh: Dian Kartika Sari*

Penyiar adalah seorang komunikator di radio. Disadari atau tidak, seorang penyiar radio harus bisa berkomunikasi dengan pendengarnya. Mengapa? Karena pesan yang disampaikan oleh seorang penyiar - dalam hal ini adalah komunikator - mesti sampai kepada pendengar (komunikan) sehingga menimbulkan persepsi yang sama dengan penyiar. Dalam ilmu komunikasi, komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang singkat, padat, dan jelas sehingga pesan yang akan disampaikan oleh seorang komunikator sama dengan persepsi komunikan. Bahkan dapat menimbulkan efek positif yang akan direalisasikan oleh komunikan dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang terjadi pesan yang disampaikan oleh penyiar radio tidak 'nyambung' dengan persepsi pendengar. Hal itu disebabkan karena seorang penyiar tidak bisa berkomunikasi dengan baik kepada pendengar. Mereka hanya bisa membaca sebuah informasi ketimbang menuturkan informasi tersebut. Akibatnya pendengar tidak paham apa yang disampaikan oleh penyiar di radio itu.

Selain harus bisa berkomunikasi dengan baik, seoang penyiar juga harus memiliki wawasan intelektual. Intinya adalah seorang penyiar harus cerdas. Ia dapat merespon sebuah kejadian atau informasi yang baru terjadi dengan bahasa dan gaya bicaranya sendiri. Sehingga pendengar yang mendengarkan siarannya akan tertarik dan tergugah untuk merespon balik apa yang ia utarakan. Tidak hanya itu, penyiar yang cerdas tahu akan kebutuhan pendengarnya. Kapan pendengar ingin mendengarkan siaran yang full musik, kapan pendengar ingin mengetahui informasi-informasi terbaru yang sedang terjadi. Seorang penyiar akan kelihatan kecerdasannya ketika ia membawakan program acara talk show. Acara yang lebih menitikberatkan pada kemampuan analisis ini tidak hanya melibatkan penyiar dan narasumber. Tetapi juga melibatkan respon pendengar. Oleh karena itu, penyiar juga harus jeli menangkap pertanyaan yang diajukan oleh pendengar agar tidak melenceng dari topik yang dibicarakan.

Tidak bisa dinafikkan bahwa seorang penyiar harus memiliki keterampilan dalam siaran. Baik itu dari segi olah vokal, maupun keterampilan memainkan perangkat-perangkat siaran. Penyiar radio tidak hanya bertugas di depan microphone saja, dalam artian ia tidak hanya 'cuap-cuap' atau berbicara panjang lebar di depan mikropon. Akan tetapi, ia juga harus bisa mengoperasikan alat-alat yang ada di studio. Seperti mixer, komputer, telepon, dlsb. Agar tidak mengandalkan operator saja, penyiar juga harus bisa menjadi operator. Kelebihannya adalah ia bisa mengatur suara dan ritme siarannya karena ia tahu kapan harus memainkan piranti-piranti siaran tersebut

Kekreatifitasan penyiar sangat dituntut dalam siaran. Penyiar yang kreatif dapat mengimprovisasikan program acara yang dibawakannya. Sehingga setiap acara yang dibawakannya tidak terkesan monoton dan pendengar akan betah di sisi radionya hingga program acara berakhir. Biasanya dalam satu hari siaran, tidak semua penyiar dapat hadir karena berbagai alasan. Penyiar yang kreatif akan tahu apa yang harus dilakukannya untuk mengisi kekosongan jam siaran tersebut. Tidak melulu musik yang didengarkan. Penyiar pengganti dapat membawakan program acara semenarik mungkin sehingga pendengar tidak bosan dan tetap betah di frekuensi radio tersebut.

Banyak yang mengatakan bahwa penyiar adalah ujung tombak sebuah radio. Ia dianggap sebagai brand image dan pencitra sebuah radio. Penyiar adalah orang yang bersinggungan langsung dengan pendengar. Pendengar akan merasa nyaman ketika mereka dilibatkan langsung dalam suatu program acara. Misalnya pada talk show, request, saran dan kritik, dan lain sebagainya. Selain itu, pendengar juga akan merasa dihargai ketika penyiar menyapa mereka. Apabila pendengar sudah merasa menyatu dengan penyiar, otomatis pendengar akan selalu mendengarkan radio tersebut.

Penyiar yang baik harus selalu menjaga citra radio tempat ia bertugas. Dia harus mengikuti kode etik di radio tersebut. Dan selalu memperhatikan segmentasi atau tipe siaran di radio itu. Ada radio yang segmennya pada remaja dan bersifat komersil, ada radio yang segmennya pada orang dewasa dan bersifat komunitas, dan masih banyak yang lainnya. Seorang penyiar harus bisa menjaga konsistensi radionya. Jika penyiar radio yang bersegmenkan dewasa berbicara dengan gaya bahasa yang gaul, orang akan mempertanyakan konsistensi radio itu. Kredibilitas penyiar akan turun karena tidak bisa beradaptasi dengan jenis radio. Akibatnya pendengar akan memindahkan channel radio itu ke radio lainnya.

Melihat rentetan kenyataan yang harus dimiliki oleh seorang penyiar diatas, ternyata menjadi seorang penyiar bukanlah hal yang mudah. Tidak cukup dengan modal suara dan bicara saja. Seorang penyiar dituntut memiliki banyak keterampilan, ide-ide yang cemerlang dan kreatif. Seorang penyiar juga tidak boleh mengatakan sesuatu yang terlalu ideal. Misalnya, ia mengatakan tidak boleh berbohong tetapi ternyata ia sendiri berbohong. Hal itu akan menurunkan kredibilitasnya di mata pendengar setia radio. Penyiar yang baik juga harus menajga sikap, tingkah laku dan etikanya. Baik secara tidak langsung dengan pendengar, maupun secara langsung ketika berhadapan face to face dengan pendengar. Apabila seorang penyiar telah memenuhi separuh saja dari kriteria penyiar yang 'baik' diatas, saya yakin radio tempat penyiar itu bertugas akan semakin diminati oleh pendengar. Artinya penyiar itu telah sukses menjadi brand image radionya.

*Penulis adalah mahasiswi STAIN jurusan Dakwah/KPI/IV, alumni angkatan I Pendidikan dan Pelatihan Teknis Mahasiswa STAIN Pontianak, wasekum P3A HMI Komisariat Dakwah.

0 komentar: