Oleh : Faisal Riza
Kata Pak Ustadz, bulan ramadhan adalah bulan baik untuk refleksi. Dan naif rasanya kalau refleksi yang dimaksud hanya ditujukan untuk pribadi-pribadi kita. Saya yakin, kehadiran ramadhan memiliki dimensi yang lebih jauh dari itu. Agar kita sebagai masyarakat (apapun komunitasnya), atau sebagai sebuah bangsa (apapun warna kulitnya) mampu menjadikan ramadhan merefleksikan apa yang telah, sedang dan akan kita perbuat nanti.
Melalui tulisan ini, menghadapai momentum Pemilihan Gubernur mendatang , saya ingin mengajak para partai politik sebagai ujung tombak demokratisasi struktural (structural democratic, ) yang memiliki otoritas untuk membawa aspirasi rakyat, kembali merenungkan betapa strategisnya peran anda dalam menentukan masa depan daerah.
Sebagaimana yang diatur dalam regulasi, maka calon-calon gubernur yang akan maju sebagai kandidat haruslah diusung oleh partai politik atau gabungan partai politik yang minimal memiliki suara sebesar 15 persen. Dalam kalkulasi sederhana, maka partai atau gabungan partai minimal harus memiliki 9 kursi di DPRD profinsi.
Melihat dinamika yang ada, paling tidak yang muncul di media hingga saat ini, hampir dari semua partai politik selalu mengajukan calon gubernur yang boleh dikatakan 'bermasalah' dengan kasus-kasus korupsi. Meski dalam regulasi yang ada (PP No 6/2005), hal itu masih dibenarkan sepanjang belum ada putusan yang berkekuatan hukum tetap.
Partai Gambling ?
Hasil survey KOMPAS (Senin, 11 September 2006) menunjukkan bahwa partai politik telah gagal melaksanakan fungsi-fungsinya, Sekitar 61 % pendapat publik, menunjukkan bahwa partai politik justru memiliki kontribusi besar bagi macetnya pemberantasan korupsi di negeri ini. Atau penelitian atas Indeks persepsi korupsi (IPK) yang dilakukan Transparency International (2005) menempatkan partai sebagai lembaga paling korup di negeri ini
Fenomena itu justru semestinya menjadi bahan refleksi bagi partai-partai politik sebagai 'pramusaji' yang akan menyajikan calon-calon gubernur mendatang untuk dipilih oleh rakyat kalbar.
Jika saja perkembangan politik yang kini sering bergulir menjadi kenyataan, maka pada dasarnya para partai-partai politik di daerah ini tengah meletakkan sebuah ironi demokrasi. Pertanyaan besarnya apa yang mendasari para calon tersebut untuk terus menerus diusung oleh para parpol , seperti kecenderungan yang kita baca di media ?. Padahal proses hukum atas kasus-kasus yang kini melibatkan para calon gubernur bermasalah tersebut masih terus berproses. (Itupun jika kita percaya bahwa proses pemberantasan korupsi yang sekarang tengah digalakkan oleh para penegak hukum kita berakar dari kepentingan hakiki dalam menegakkan kebenaran dan keadilan ) .
Maka ada dua alasan yang saya kira bisa disebutkan di sini :
Pertama, Para partai masih melihat bahwa proses penegakan hukum masih bisa dikendalikan oleh kekuatan politik. (supremasi politik di atas supremasi hukum). Ini adalah sebuah spekulasi yang mahal harganya yang harus dibayar oleh rakyat kalimantan barat selama 5 tahun mendatang. Sebuah spekulasi yang sangat beresiko. Karena andai saja calon-calon bermasalah tersebut menang, maka akan terjadi sebuah dilema demokrasi , meminjam istilah Zumri Berstado Sjamsuar, dimana akan terjadi Daulat Rakyat berhadapan dengan Daulat Hukum. Bukankah dengan demikian, nasib pilihan rakyat kalbar akan tergantung pada keseriusan jaksa dalam menegakkan hukum?
Kedua, Para partai masih melihat bahwa keberlangsungan 'hidup'nya masih disandarkan pada kepentingan - kepentingan pragmatis. Kepentingan dimana melihat kekuasaan sebagai wahana eksploitasi sumber daya belaka demi kepentingan sesaat. Betapa tidak, sepertinya keinginan agar calonnya menang lebih justru mengemuka sekalipun harus mengenyampingkan faktor integritas dari sang calon.
Sepertinya hasil survei KOMPAS yang mengatakan bahwa selama ini partai tidak terlalu serius untuk memperjuangkan program-programnya atau memperdulikan konstituennya tapi lebih tertarik untuk mengejar kekuasaan, benar adanya.
Partai Mendobrak
Mumpung masih bulan ramadhan, saya kira ada baiknya para partai untuk kembali melakukan refleksi. Sudah sejauhmanakah mereka menjalankan idealismenya baik berupa visi, misi dan program yang biasanya saat pemilu selalu didengung-dengungkan .
Dari konfigurasi politik kalbar yang khas, basis pikir para elit politik di daerah dalam menentukan pasangan kepala daerah sepertinya selalu saja disandarkan pada isu power sharing. Karena itu, para elit akan berusaha sekuat mungkin merekrut calon pasangan kepala daerah tersebut diambil dari basis primordial yang sama. Pada dasarnya, pilihan itu sah-sah saja. Bahkan harus, jika partai tersebut memang meyakininya sebagai bagian dari perjuangan ideologi partai tersebut. Namun sayangnya kekhawatiran bahwa calon yang diusungnya tidak menang atau kalah popularitas, justru mengukung kreatifitas partai dalam membidik calon gubernur yang memiliki integritas (baca : tidak bermasalah).
Pertanyaannya, sudah tidak ada lagikah orang yang memiliki integritas namun sedikit populer untuk dibidik sebagai sang calon? Saya kira kita bisa berdebat di sini. Saya yakin baik dari kalangan mantan birokrat, profesional, akademisi, Tokoh Masyarakat, atau dari politisi sekalipun , di daerah ini , figur-figur yang memiliki integritas ini masih banyak jumlahnya.
Bukankah di sinilah letak tantangan agar peran partai mampu mengusung calonnya mendapat pilihan dari rakyat. Karena itu, partai semestinyalah bermain total football untuk memenangkan calon yang diusungnya. Itu kalau anda merasa bahwa partai bukan hanya sebagai lembaga yang menyediakan 'perahu' belaka, seperti citra yang sering terbangun selama ini ketika proses pilkada berlangsung.
Karena itu, kenapa harus takut, kalau anda mengusung figur yang bersih dan memiliki integritas meski kurang populer. Toh popularitas juga adalah bagian dari sesuatu yang masih bisa anda ciptakan untuk meraih suara dan hati rakyat ? . Sudah saatnya anda harus berani mendobrak dan membuat fenomena baru dalam dinamika politik saat ini. Seperti kata orang, if you want to be a phenomenal you must create a phenomenal.Selamat Berjuang.
Penulis adalah Pemerhati Calon Gubernur
Rabu, 02 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar