Oleh: Nurul Hadi
TULISAN ini dibuat untuk memberikan tanggapan tulisan koran ini beberapa hari yang lalu. Bahwa kota Pontianak akan gelap gulita karena permasalahan PT. PLN jika tidak diberikan solusi yang tepat. Permasalahan tentang mesin-mesin pembangkit yang rusak dan beberapa permasalahan lainnya.
Kunjungan DPRD Provinsi Kalimantan Barat ke PT. PLN (Persero) Kalimantan Barat terungkap persoalan bahwa sulitnya PLN melayani kebutuhan listrik masyarakat akibat dua unit mesin pembangkit pada PLTD Sei. Raya mengalami kerusakan. Sementara daya mampu yang dimiliki PLN Kalbar hanya berkisar 101 megawatt, dengan beban puncak mencapai 115 megawatt. (AP. Post, Sabtu 30 September 2006)
Tentu dari permasalahan tersebut diatas harus ada solusi yang tepat agar pelayanan masyarakat terjamin. Tidak lupa penulis juga mengungkapkan penyataan dari anggota DPRD yang menyebutkan bahwa tidak ada "harap maklum" PLN. Dalam pernyataannya bahwa masyarakat jangan dipaksa untuk menerima kondisi kelistrikan Kalbar saat ini. Harus ada antisipasi dari PLN guna perbaikan pelayanan dan penyediaan energi listrik dimasa yang akan datang.
Kompleknya permasalahan ketenagalistrikan saat ini memang memaksa pemerintah daerah untuk mencari solusi yang dapat secara langsung dirasakan oleh masyarakat. Bukan statemen atau pernyataan saja, namun upaya kongkrit dari pemerintah tentang hal itu. Jangan sampai penyataan di media hanya menjadi konsumsi keseharian saja tanpa berbuat apa-apa.
Dari permasalahan diatas, dalam hal ini penulis hanya mengkhususkan tulisan tentang perlunya pencarian sumber energi baru. Kita mengetahui bahwa saat ini krisis sumber energi disertai pengaruh terjadinya pemutusan aliran beban kelistrikan yang terjadi di Kota Pontianak dan kota-kota lainnya. Itu dikarenakan sengaja direncanakan oleh PT. PLN dalam mempertahankan ketahanan mesin-mesin pembangkit yang ada agar optimalisasi kerjanya bisa bertahan lama. Adanya pemadaman secara bergilir juga belakangan ini menjadi faktor perhatian yang sangat serius bukan hanya pemerintah Kota Pontianak, tetapi Kalimantan Barat secara umum serta pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan sumber energi ini. Kejadian tersebut tentu saja sangat tidak kita inginkan seiring dengan aktifitas dari perkembangan pembangunan di wilayah perkotaan pada umumnya yang terus bergerak dalam roda pembangunan. Juga Kota Pontianak saat sekarang dalam tahap pengembangan kawasan dan tata ruang seiring dengan pertambahan penduduk dengan segala usaha-usaha kegiatan perekonomian serta kebutuhannya. Disamping itu peningkatan kebutuhan akan penggunaan energi listrik juga pertumbuhan beban kelistrikan di tiap-tiap sektor cendrung selalu mengalami peningkatan.
Pembangunan di Kota Pontianak saat ini begitu pesat. Perusahaan di berbagai sektor juga bermunculan. Home industri juga banyak tumbuh dan berkembang. Pengembangan kawasan yang sehat terus saja digalakkan. Pertumbuhan itu juga diikuti oleh banyaknya didirikan lembaga pendidikan tinggi di Kota Pontianak ini. Dengan pertumbuhan pendudukan yang terus meningkat, laju kegiatan ekonomi masyarakat yang terus menerus menunjukkan kenaikan ditambah dengan perluasan kawasan hunian bagi masyarakat. Tak dapat dipungkiri bahwa pada saat itu juga penyediaan beban energi listrik meningkat tajam. Sedangkan ketersediaan daya bagi penyedia yakni PT. PLN tidak mencukupi untuk itu.
Dalam kondisi ini, untuk memenuhi permintaan maupun pertumbuhan beban kelistrikan yang sejalan dengan perkembangan pembangunan, penyelenggara tenaga listrik yaitu PT. PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Barat sebagai penggerak aktivitas ekonomi industri di hulu dan permintaan daya pada distribusi di hilir, melakukan strategi kebijakan dalam penggunaan dan efektivitas energi listrik dalam penyelesaian krisis penyediaan, meningkatkan cadangan daya, menjamin pasokan jangka panjang serta penambahan kapasitas daya terpasang dengan didahului perencanaan akan prakiraan dari penyediaan produksi tenaga listrik guna memenuhi faktor ketersediaan kapasitas daya disisi pembangkit listrik dalam memenuhi serta mengantisipasi pertumbuhan beban kelistrikan pada daerah pelayanan. Tentu ini menjadi pekerjaan yang tidak mudah, namun menjadi tantangan kedepan didalam penyediaan energi bagi pembangunan Kalimantan Barat secara keseluruhan.
Tentu untuk mengefisienkan semua itu diperlukan pengamatan dari besarnya produksi tenaga listrik dalam tahap rencana usaha-usaha penyediaan sumber ketenagalistrikan sebagai langkah antisipasi disaat sekarang maupun dimasa yang akan datang di tiap-tiap kawasan yang menjadi pelayanan PT. PLN guna menunjang rencana pengembangan sistem distribusi listrik, kegiatan perekonomian, pembangunan wilayah dalam melayani permintaan kebutuhan energi listrik pada tiap sektor konsumen secara kontinyu dan handal.
Dengan uraian tersebut diatas bahwa sangat diperlukan sumber energi listrik baru dalam upaya penyediaan daya bagi perkembangan dan pembangunan Kalimantan Barat kedepan. Sumber energi baru ini dapat berupa batu bara yang berada di Kab. Sintang yang saat ini belum tersentuh sama sekali dalam hal pemanfaatannya guna usaha penyediaan sumber energi listrik baru. Juga air terjun yang cocok untuk dijadikan Pembangkit Listrik Tenaga Air yang berada di perhuluan, serta potensi energi nuklir jika pemerintah daerah mampu didalam penyediaan sarananya. Sebab, bahan bakunya sudah tersedia di Kab. Melawi yakni uranium yang sampai saat sekarang hanya dijadikan tempat penelitian dan observasi semata. Jika, krisis energi ini dibiarkan dan tidak diberikan solusi yang tepat, maka bukan tidak mungkin dalam waktu yang tidak lama Kalimantan Barat akan terpuruk dari berbagai sektor. Sebab efek dari tidak tersedianya daya energi listrik ini akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan secara keseluruhan. Semoga menjadi perhatian semua pihak. Kita tidak butuh pernyataan yang simpang siur namun solusi yang kongkrit guna mengatasi krisis energi masa depan. Semoga bermanfaat.
(Penulis: adalah Mahasiswa Fakultas Teknik Elektro Untan)
Rabu, 02 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar