Oleh: Syamsul Kurniawan
Marhaban wa ahlan yaa Ramadhan yaa muthahhir. Selamat datang Ramadhan, yaa muthahhir. Para sahabat bertanya: "siapakah muthahhir wahai Rasulullah?". Jawab Rasul: "al-muthahhir adalah bulan suci Ramadhan, ia mensucikan dari dosa-dosa dan maksiat.
Dalam hitungan hari kita akan menjumpai al-Muthahhir (bulan suci Ramadhan) sebagaimana yang dimaksud di dalam hadis ini. Bulan penuh berkah (syahrul mubarak) di mana diharamkan setiap perbuatan dosa dan maksiat. Bulan suci di mana setiap umat muslim di seluruh penjuru dunia, baik kaya, miskin, berkulit hitam atau putih, keturunan bangsawan atau rakyat jelata; memusatkan perhatian untuk memenuhi panggilan agama, ialah melakukan ibadah puasa.
Berkata Rasulullah SAW. dalam sebuah hadis: "sesungguhnya telah datang kepadamu suatu bulan yang penuh berkah (syahrul mubarak), Allah SWT. Mewajibkan padamu mempuasakannya pada-Nya, dibuka pintu surga (selebar-lebarnya) dan ditutup pintu neraka (serapat-rapatnya), dan syaitan-syaitan dibelenggu. Padanya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan".
Secara historis, ibadah puasa di bulan suci Ramadhan disyariatkan oleh Allah SWT kepada umat muslim pada bulan Sya'ban tahun ke-II H. Syariat berpuasa ini ditandai dengan diwahyukannya ayat 183-184 dari surah al-Baqarah.
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan orang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui".
Seruan puasa kepada orang yang beriman sebagaimana diterangkan oleh ayat 183 dari surat al-Baqarah di atas mengandung implikasi adanya dimensi teologis (ilahiah) dalam ibadah puasa Ramadhan. Yaitu hubungan internalisasi logis "keyakinan" seorang muslim dengan Sang Khaliq (pencipta) nya. Sense keimanan menjadikan puasa Ramadhan laiknya pergumulan batin yang sifatnya amat privasi. Membutuhkan komitmen keimanan, ketulusan dan keikhlasan hati setiap insan yang menjalankannya.
Ibadah puasa seseorang hanya dapat dimengerti kualitas ibadahnya oleh orang itu sendiri. Berpuasa atau tidaknya, hanya ia sendiri yang tahu, kecuali ia (yang berpuasa) itu sendiri memberitahukannya kepada orang lain. Sebuah hadis Qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda: "Telah berfirman Allah SWT: "semua amalan manusia adalah untuk dirinya, kecuali puasa, maka itu adalah untuk-Ku dan Aku akan memberi ganjaran..." (HR Ahmad, Muslim). Melalui hadis Qudsi ini, terlihat adanya prinsip dualitas, antara Sang Khaliq (pencipta) dan Makhluq (yang diciptakan), antara yang memiliki otoritas absolut untuk "memerintah" dengan yang berkewajiban "menaati perintah".
Dimensi teologis puasa Ramadhan barangkali menjadi konsekuensi logis seorang muslim untuk mengenal dirinya sebagai manusia yang serba terbatas dihadapan Tuhan yang Maha Absolut. Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu. Ini erat kaitannya dengan keimanan yang dimaksud dalam QS 02: 183 yang menuntut adanya penghambaan total kepada Sang Khaliq, dengan ketulusan dan keikhlasan. Hingga pada akhirnya muncul kesadaran totalistik akan tujuan hidup manusia. Seperti yang diterangkan di akhir ayat QS 02: 183 bahwa terminal akhir seorang yang berpuasa adalah ketaqwaan. "Ketaqwaan" harus dipahami sebagai tujuan hidup manusia dan merupakan derajat tertinggi dari kualitas hidup seorang manusia (QS 49: 13).
Kecuali itu pula, dimensi teologis (ilahiah) puasa Ramadhan tentulah harus ditransformasikan ke dalam dimensi sosiologis (insaniah) agar puasa Ramadhan tidak melulu melangit melainkan juga menjejak di bumi. Maksudnya, konsekuensi etis puasa Ramadhan memang menjadi urusan Tuhan, tetapi konsekuensi moralnya menjadi tanggung jawab (responsibility) seseorang dalam interelasinya sebagai anggota masyarakat.
Dengan demikian puasa di bulan suci Ramadhan - seperti yang pernah dikatakan oleh al-Gazali dalam karya magnum opus-nya Ihya' Ulumuddin - puasa yang memanusiakan bukanlah semata-mata menahan diri dari makan, minum atau seks dari pagi hingga petang; bukan pula semata-mata menahan penglihatan, pendengaran dan ucapan yang berbau maksiat; melainkan juga mampu menjaga keadaan hati terhindar dari hal-hal yang rendah, hal-hal yang berbau materialistik dan berbagai kecenderungan yang mengarah pada tindakan destruktif-anarkis (kekerasan).
Dapat dipahami, bahwa krisis multidimensi yang dialami bangsa kita dengan munculnya penyakit-penyakit sosial seperti korupsi, manipulasi, pungli, penyalah-gunaan kekuasaan dan berbagai bentuk pelanggaran hak asasi seseorang dan bentuk-bentuk ketidak-adilan berawal dari sikap yang terlalu menghamba pada materialisme (abdul butun); sedangkan kekerasan selalu muncul akibat tidak mampunya seseorang dalam mengoptimalkan usaha-usaha pengendalian diri dari kecenderungannya bersikap destruktif-anarkis.
Akhirnya, melalui puasa Ramadhan nantinya, tidak ada yang lebih penting daripada "berburu" untuk memperbanyak amal kebajikan, melatih diri dalam mengendalikan hawa dan nafsu, berdisiplin dalam segala hal dan menunjukkannya dalam ibadah kemanusiaan yang nyata, seperti bersedekah dan berbuat baik pada sesama, termasuk ikut hadir dalam kehidupan orang-orang miskin. Semoga datangnya bulan suci Ramadhan kali ini benar-benar memberikan berkat dan rahmat bagi kita semua. Amin yaa Rabbal 'alamiin.***
(Pemerhati Sosial-Keagamaan, Tinggal di Pontianak).
Rabu, 02 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar