Oleh: Aspari Ismail
HAMPIR seluruh sendi kehidupan, setiap orang ingin segala urusannya dapat berlangsung cepat, lancar dan tanpa hambatan apapun. Hal ini sangat mudah untuk dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dengan mata telanjang. Pelakunya pun sangat beragam; mulai dari penjual sayur hingga direktur, penggali kubur sampai insinyur, masyarakat biasa Hatta pejabat negara.
Sering kita menyaksikan atau mungkin kita sendiri pelakunya, ketika di jalan raya bahkan di mulut gang sekalipun, melarikan kendaraan dengan kecepatan yang sangat tinggi, menyalip dengan seenaknya, melanggar peraturan lalu lintas dengan memotong jalan pintas. Lampu merah sebagai pertanda bahwa para pengendara -siapapun dia- dan apapun jenis kendaraannya (mobil, motor, sepeda, becak,) -kecuali mobil ambulan yang membawa orang sakit- harus berhenti sejenak, untuk memberikan kesempatan kepada para pengendara dari arah yang lain. Tetapi masih saja peraturan itu dilanggar, seakan-akan jalan itu hanya miliknya pribadi dan kepunyaan keluarganya. Apakah memang tidak mengerti tentang aturan lalu lintas? ataukah mereka buta warna?. Alasannya sangat simpel, karena ingin cepat sampai, gitu lho!. Padahal bukankah ada pepatah "lebih baik lambat asalkan selamat"?. Selamat bagi diri sendiri dan selamat untuk orang lain.
Terjadinya kasus korupsi yang telah menjadi tradisi, pembobolan bank menjadi modus operandi yang digemari, pengurangan timbangan dalam berdagang diminati, disebabkan karena pelakunya ingin cepat kaya, gitu lho!. Mereka tidak peduli dengan kondisi bangsa yang sedang merana karena belum bisa pulih dari krisis ekonomi. Hal terpenting bagi mereka adalah agar dapat membiayai kebutuhan anak istri hingga tujuh keturunan. Padahal sesungguhnya apa yang dilakukan itu akan kembali kepada si pelakunya. Anak, istri, keluarga juga menanggung beban malu akibat perbuatan itu. Kini, sudah ada koruptor yang mendekam diterali besi, tetapi tidak sedikit yang belum terungkap dan masih bebas bergentanyangan di negeri ini. Kenapa kita tidak bersyukur atas segala anugrah yang telah diberikan Tuhan?.
Dalam dunia pendidikan juga banyak terjadi penyimpangan. Tidak sedikit orang yang ingin cepat mendapatkan gelar, cukup hanya dengan membeli ijazah saja. Untuk cepat selesai kuliah, juga masih ada mahasiswa yang membeli skripsi (bagi yang banyak uang), dan mengambil/menjiplak hasil karya orang lain, seakan itu hasil usaha penelitian yang dilakukannya sendiri (plagiator).
Menjelang pemilihan kepada daerah (Pilkada) juga banyak bakal calon Gubernur yang mulai melakukan kampanye terselubung, tujuannya tidak lain supaya cepat dikenal masyarakat, gitu lho!. Supaya masyarakat menganggap mereka adalah para calon pemimpin yang peduli dengan penderitaan rakyat dan berhati "malaikat" yang pantas untuk diangkat sebagai pemimpin.
Mau cepat menyelesaikan masalah, orang lebih suka main hakim sendiri (tidak percaya lagi dengan hukum?), mengandalkan pengerahan massa, teror, ancaman, dan mencintai kekerasan dalam menyelesaikan persoalan (tidak percaya lagi dengan polisi?). Karena tak mampu melawan himpitan ekonomi, perselingkuhan (broken home), banyak orang yang ingin cepat mati, dengan menggantung diri, minum racun, dan sebagainya. Ingin cepat melenyapkan nyawa banyak orang, lebih gampang, bom alat yang paling hobi digunakan, peledakan bom terjadi di mana-mana.
Mau cepat menyalurkan hasrat birahi, orang kini langsung meluncur ke tempat prostitusi, memperkosa anak di bawah umur, mengeloni istri orang, merampas suami tetangga, bahkan tak jarang anak kandung pun juga dilahap. Perzinahan di mana-mana. Berita yang paling hot di antaranya adalah kisah pertualangan cinta YZ dan ME.
Para penjahat negara (baca: koruptor) yang telah dijatuhi hukuman, karena tidak sanggup menginap di "hotel prodeo" juga ingin agar masa tahanannya dipercepat. Tragisnya, hukuman yang diberikan lebih ringan, masih lebih lama hukuman yang diberikan kepada pencuri ayam. Sebelum dijatuhi hukuman, (dalam proses pemeriksaan), banyak saja alasannya, yang paling sering adalah alasan kesehatan karena sakit. Masih banyak lagi hal lainnya yang ingin diselesaikan secara cepat, tetapi merugikan orang lain.
Kalau sudah menyangkut urusan pribadi, semuanya ingin cepat. Tetapi jika sudah menyangkut masalah kepentingan urusan orang banyak, sangat sedikit sedikit sekali para "pelayan" masyarakat (baca: pejabat negara) yang mau ambil peduli. Beras miskin (raskin) yang semestinya harus cepat sampai ke tangan orang yang berhak menerimanya sengaja diperlambat, urusannya berbelit-belit. Tragisnya beras untuk orang yang tidak punya digunakan dan dinikmati oleh orang yang mampu. Dana kompensasi yang diprogramkan oleh pemerintah untuk orang yang lemah ekonominya, tidak menutup kemungkinan nanti dalam perjalanannya "dicegat" oleh orang-orang yang tidak bermoral. Dana itu "disunat" dulu, baru selebihnya diberikan kepada masyarakat. Syukur kalau sampai, kalau tidak siapa yang menikmati?.
Jika kondisi ini tidak sanggup kita memberangusnya, maka jangan pernah bermimpi Indonesia baru akan segera terwujud. Perlu gebrakan yang kuat agar kondisi ini tidak terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Semua elemen mempunyai andil yang cukup signifikan untuk menyembuhkan dan menyehatkan bangsa ini dari sakit yang dideritanya. Menumbuhkan semangat beryukur atas segala nikmat yang dianugrahkan Tuhan, bersabar atas segala cobaan yang ditimpakan-Nya, mematuhi hukum, bekerja dengan lebih serius dan penuh tanggungjawab sesuai dengan peranan kita masing-masing, mengutamakan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan pribadi merupakan langkah yang mutlak dan mendesak untuk segera dilakukan untuk menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran!.
(Penulis, Mahasiswa STAIN Pontianak dan Pengurus Badko HMI Kalbar)
Rabu, 02 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar