Rabu, 02 Juli 2008

Tahun Baru Hijriyah dan Taubat Nasional

Oleh Abriyandi, SPd

Kini kita sudah memasuki pintu Muharram. Momentum pergantian tahun ini sepantasnya tidak boleh kita lewatkan begitu saja. Kita mesti menoleh sejenak perjalanan bangsa yang sudah dilewati selama tahun-tahun sebelumnya, yakni mengambil I'tibar (pelajaran) guna menyempurnakan hidup di masa yang akan datang. Sebab Rasulullah di dalam sebuah haditsnya mengatakan : "siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia orang yang beruntung, siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia termasuk orang yang merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dia termasuk orang yang celaka". Semoga saja, kita tidak termasuk golongan orang-orang yang rugi, apalagi orang-orang yang celaka.

Beberapa tahun terakhir dan hingga kini, bangsa kita sedang ditimpa musibah silih berganti, mulai dari bencana alam hingga bencana akibat perbuatan manusia langsung. Sebut saja yang paling besar, mulai dari gelombang Tsunami di Aceh yang menelan ratusan ribu jiwa, gempa bumi di Jogjakarta, Lumpur panas yang mungkin sebentar lagi akan menenggelamkan Surabaya, banjir di beberapa daerah termasuk di Kalimantan Barat, sementara beberapa daerah lainnya justeru terjadi bencana kekeringan dan kelaparan, kecelakaan pesawat, kereta api, dan tenggelamnya beberapa kapal yang menewaskan ratusan jiwa, merupakan beberapa catatan kecil tentang peristiwa-peristiwa besar yang membuat bangsa ini sedang menangis panjang. Sementara pada sisi yang lain, pertikaian antar dan sesama golongan, suku, agama, karena berbagai kepentingan tampaknya juga menunjukkan grafik yang cenderung meningkat. Kemerosotan akhlaq juga semakin spektakuler. Sementara Korupsi seolah sudah tertata dengan sangat apik di dalam cara-cara kita mengelola bangsa ini. Anak membunuh orang tua dan sebaliknya, orang tua memperkosa anak, kakek memperkosa cucu, kakak membunuh adik, seks bebas dan peredaran obat-obatan terlarang yang semakin merajalela, merupakan fenomena lain yang juga seolah semakin menakutkan tetapi juga seolah menjadi lumrah mewarnai kehidupan kita.

Tidak cukupkah kita mengambil pelajaran dari tanda-tanda zaman yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita ini? Padahal fenomena seperti tersebut di atas sudah dijelaskan oleh Allah SWT di dalam Firman-Nya : Katakanlah: " Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu[482] atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti[483] agar mereka memahami(nya)." (Al-An'am : 65)

Tampaknya, apa yang digambarkan oleh Allah SWT dalam ayat di atas, itulah yang sedang terjadi di negeri ini. Bencana diturunkan oleh Allah SWT kepada suatu negeri tetap mengikuti sunnatullah, yakni jika ummat di negeri tersebut kufur terhadap nikmat Allah SWT serta mendustakan ayat-ayat-Nya, sebagaimana Firman-Nya : "Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian[841] kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat". (An Nahl : 112)

Salah satu kisah kehancuran sebuah negeri yang diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an dengan nama surat Saba' yakni kisah penduduk Saba. Saba' adalah nama suatu kabilah dari kabilah-kabilah Arab yang tinggal di daerah Yaman sekarang ini. Mereka mendirikan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Sabaiyyah, ibukotanya Ma'rib; telah dapat membangun suatu bendungan raksasa, yang bernama Bendungan Ma'rib, sehingga negeri mereka subur dan makmur. Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba' lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan nikmatnya kepada mereka, serta mereka mengingkari pula seruan para rasul. Karena keingkaran mereka ini, Allah menimpahkan kepada mereka azab berupa sailul 'arim (banjir yang besar) yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma'rib. Setelah bendungan ma'rib bobol negeri Saba' menjadi kering dan kerajaan mereka hancur.

Sebenarnya, hakekat setiap musibah yang ditimpakan oleh Allah SWT kepada setiap hamba-Nya tersebut mengandung tiga macam nilai, yaitu :

a. sebagai Cobaan atau ujian. Jika diberikan ujian ini kita tidak mampu membaca tanda-tanda kekuasaan-Nya, tidak bersabar dan bersyukur, maka akan Allah SWT turunkan lagi musibah berikutnya, yakni.

b. sebagai peringatan. jika masih tidak kembali ke jalan yang dituntunkan, maka tunggulah rentetan musibah berikutnya, yakni

c. sebagai bala'. Jika bala bencana diturunkan, maka tidak ada satupun yang dapat membendungnya.

Untuk terhindar dari bala' bencana yang memusnahkan tersebut, maka seluruh proses pembangunan, tata kehidupan kita dalam bermasyarakat, haruslah menjalankan tuntunan Allah, agar Allah SWT menurunkan berkah dari langit dan mengeluarkan berkah dari bumi. Sebagaimana Firman Allah SWT : "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (96). Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? (97). Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? (98). Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (99). Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)? (100)". (Al-A'raaf 96-100).

Kiranya, untuk dapat menata kembali negeri ini, sebaiknya kita melakukan pertaubatan secara nasional, meninggalkan cara-cara lama, cara-cara yang tidak santun dalam mengelola negeri ini. Sebaliknya kita bangun negeri ini dengan cara-cara yang lebih beradab dan berakhlaqul karimah. Kita mesti mengembalikan kodrat bahwa Ummat Islam itu rahmatan lil 'alamin. Jadi ketika ummat Islam diberikan amanah untuk memimpin negeri ini, seharusnya dapat membawa rahmat bagi penduduknya. Hanya jalan Allah yang dapat membawa negeri ini menuju negeri yang Baldatun toyyibatun warabbun ghafur.

(penulis adalah Sekretaris PMW KAHMI Kalbar)

0 komentar: