Rabu, 02 Juli 2008

Memperingati Hari Lahan Basah Sedunia

Oleh : Eta Fanani AR*

Setiap tanggal 2 Februari diperingati sebagai hari lahan basah sedunia (world wetland day) oleh sebagian masyarakat yang hidup di permukaan bumi ini. Lahirnya hari lahan basah sedunia adalah untuk memperingati sebuah peristiwa historis 37 tahun yang lalu, dimana pada tanggal 2 Februari 1971 di kota Ramsar Iran, telah berlangsung sebuah Konvensi Internasional tentang lahan basah. Memang pada awalnya konvensi ini hanya sebatas pada masalah burung air dan burung migrant, namun dalam perjalanannya, konvensi ini berkembang pada pemanfaatan ekosistem lahan basah secara bijaksana (wise use) melalui aksi nasional dan kerjasama internasional untuk mewujudkan pembangunan secara berkelanjutan (sustainable development) di seluruh dunia. Konvensi ini kemudian dikenal oleh kalangan luas sebagai Konvensi Ramsar. Indonesia telah masuk menjadi anggota dan sekaligus meratifikasi Konvensi Ramsar pada tahun 1991 dengan diterbitkannya Keppres No. 48 tahun 1991.

Dalam salah satu artikel Konvensi Ramsar, lahan basah (wetland) didefinisikan sebagai daerah-daerah rawa, payau, lahan gambut, dan perairan ; tetap atau sementara; dengan air yang tergenang atau mengalir; tawar, payau atau asin; termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada waktu surut. Pengertian diatas menunjukkan bahwa lahan basah mencakup beberapa keadaan alam, seperti terumbu karang, padang lamun, dataran lumpur dan pasir, mangrove, daerah pasang surut, estuari, rawa air tawar dan gambut, danau, sungai, serta lahan basah buatan seperti kolam, tambak, sawah dan waduk.

Secara geografis, lahan basah merupakan salah satu habitat utama di wilayah Kalimantan Barat. Habitat lahan basah ini terutama berupa pesisir, rawa air tawar, rawa gambut, sawah, kolam, sungai-sungai dan danau. Keberadaan lahan basah tersebut sangat penting bagi kelangsungan hidup masyarakat Kalimantan Barat. Fungsi lahan basah tidak saja dimaknai sebagai faktor pendukung kehidupan secara langsung, seperti sumber air baku, jalur transportasi dan habitat bagi berbagai flora dan fauna, tapi juga memiliki fungsi ekologi, produksi dan estetika. Secara ekologi, lahan basah berfungsi sebagai penyedia dan penjaga siklus hidrologis, minimalisasi erosi, penahan dan penawar pencemaran, pencegah intrusi air laut, pengendali banjir dan kekeringan serta berperan penting dalam pengendali iklim global. Dalam konteks produksi, lahan basah berfungsi sebagai penyedia hasil hutan, pendukung kegiatan pertanian, sumber protein hewani akuatik dan sumber pendapatan masyarakat. Lahan basah juga memiliki nilai estetika yang khas, karena selain kondisi alamnya yang eksotik, juga keberadaannya berasosiasi dengan perkembangan budaya masyarakat setempat yang terapresiasi dalam bentuk kearifan-kearifan lokal.

Namun dari potret realita yang ada, derasnya aliran pembangunan di setiap sektor kehidupan di wilayah Kalimantan Barat yang kurang mempertimbangkan aspek kelestarian lingkungan telah menggerus keberadaan lahan basah, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Kegiatan eksploitasi sumber daya hutan secara berlebihan, reklamasi dan konversi lahan yang tidak teratur serta penambangan emas di sungai-sungai adalah merupakan sedikit dari sekian banyak praktek-praktek pengelolaan sumber daya lahan basah yang tidak bijak, sehingga ekosistem lahan basah kita terus-menerus mengalami kerusakan.

Implikasi logis dari terdegradasinya lahan basah telah mulai kita rasakan saat ini. Merebaknya bencana banjir dibeberapa Kabupaten yang ada di Kalimantan Barat, terjadinya abrasi pantai, meningkatnya intrusi air laut yang mengakibatkan masyarakat kota pontianak kesulitan mendapatkan air bersih pada saat musim kemarau, pendangkalan beberapa sungai utama di Kalimantan Barat yang menghambat jalur distribusi barang dan jasa ke daerah-daerah pedalaman serta menurunnya hasil tangkapan ikan di sungai-sungai dan danau. Dampak dari proses degradasi dan hilangnya lahan basah serta keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya ini telah menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi yang besar bagi masyarakat, baik yang berada di dalam maupun diluar ekosistem lahan basah tersebut.

Konvensi Ramsar 1971 telah menghimbau kita untuk dapat memanfaatkan lahan basah yang masih tersisa secara bijaksana dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, tetapi kita terkesan apatis atas himbauan ini, sehingga kita selalu dihantam oleh berbagai musibah alam. Oleh karenanya, melalui momen peringatan hari lahan basah sedunia kali ini, hendaknya ada ruang bagi kita semua, baik pemerintah daerah, masyarakat, pelaku usaha maupun pihak lainnya untuk sejenak mengadakan refleksi-kontemplatif atas segala tindak tanduk kita dalam mengelola alam selama ini, terutama ekosistem lahan basah. Sudah saatnya kita beranjak dari kamar apatisme dan arogansi menuju kamar kebijaksanaan pengelolaan sumber daya lahan basah. Bijak berarti bagaimana kita dapat memanfaatkan sumber daya lahan basah yang masih tersisa ini secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan keberadaan dan fungsi ekosistemnya. Moralitas menjadi nilai yang inheren dalam pengelolaan lahan basah secara bijaksana. Pemanfaatan yang berkelanjutan berarti bagaimana kita dapat menikmati manfaat sumber daya lahan basah seoptimal mungkin untuk generasi kini tanpa harus mengorbankan potensi sumber daya lahan basah untuk generasi yang akan datang.

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam rangka mewujudkan pengelolaan lahan basah secara bijaksana dalam bingkai pembangunan berkelanjutan, diantaranya adalah menetapkan status kawasan lahan basah dalam perencanaan tata ruang wilayah/daerah melalui diskusi yang melibatkan semua pemangku kepentingan, memperluas transformasi infomasi mengenai pengelolaan lahan basah secara bijaksana melalui kampanye lingkungan, merumuskan rencana aksi strategis pengelolaan lahan basah yang integratif atau terpadu serta menegakkan hukum secara konsisten dan konsekuen.

Akhirnya, kelestarian sumber daya alam sangat bergantung dari prilaku dan mentalitas kita sebagai manusia. Rusaknya alam berarti kita telah merusak diri kita sendiri dan generasi yang akan datang. Selamat Memperingati Hari Lahan Basah Sedunia

* Staff divisi pengembangan ekosistem lahan basah Yayasan Konservasi Borneo

0 komentar: