Oleh: Syamsul Kurniawan MR*)
MURKA Tuhan seakan tumpah tak terbendung. Bencana demi bencana datang beruntun tanpa jeda. Sungguh tragis nasib rakyat dan tanah airku. Belum selesai kita berbicara tentang masalah banjir di Jakarta, muncul kabar duka lain, yakni terbakarnya Kapal Levina I, angin puyuh, longsor, gempa dan terakhir terbakarnya Pesawat Garuda di Bandar Udara Adisutjipto Yogyakarta.
Padahal, berita-berita sebelumnya juga tidak kalah menyayat hati. Sejak 2004, gelombang duka tidak hanya menyelimuti tetapi meresapi bangsa kita. Mulai dari tsunami Aceh, disusul Nias, lalu kerak bumi Ngayogyakarta berderak dan meluluh-lantakkan Bantul, Yogya dan Klaten. Belum lagi, amukan lava dan awas panas gunung berapi ketika itu. Pada saat bersamaan, jalan, ladang dan pemukiman rakyat Sidoarjo dan sekitarnya diserbu lumpur gas panas akibat kecerobohan. Dirasa belum cukup, hingga awal Maret 2007 berita duka yang bermunculan kian menyesakkan pikiran, memuakkan bahkan mengerikan.
Dalam satu minggu saja bisa terjadi dua kali bencana dan musibah. Seolah-olah kabar duka itu mengesankan betapa khazanah berita di negeri ini nyaris hanya warta kedukaan, tak tersisa lagi ruang untuk membicarakan kegembiraan, keceriaan, pengharapan, keberhasilan, cita-cita dan kecerahan. Bencana tanah longsor di Manggarai, gempa hebat di Sumatera Barat dan terbakarnya Pesawat Garuda di Bandar Udara Adisutjipto Yogyakarta seakan mau mengatakan, tak ada jaminan rangkaian bencana dan musibah di negeri ini akan berakhir dalam waktu dekat.
Apakah rangkaian bencana dan musibah ini azab Tuhan kepada kita, setelah semua kenikmatan yang diberikan kepada negeri dan penduduknya ini begitu melimpah, namun ternyata tetap tidak membuat penduduk negeri ini mengingat-Nya? Atau hanya sinyal peringatan Tuhan agar kita segera sadar dan kembali ke jalan-Nya?.
Bangsa Ini Niscaya Belajar
Dalam hal ini, manusia Indonesia harusnya mampu menangkap pesan Tuhan melalui rangkaian bencana dan musibah yang dialami bangsa kita saat ini. Dalam bahasa daerah (Jawa, misalnya) ada ungkapan "tanggap ing sasmita", tanggap akan isyarat dari "langit". Bukan dalam konteks "klenik", ungkapan itu kita tangkap, melainkan dalam sikap keterbukaan dan kerendahan hati orang beriman. Meski bencana dan musibah merupakan bagian dari ketetapan Tuhan (QS 09: 51), juga bisa dikatakan musibah merupakan bahasa teguran Tuhan pada manusia yang "lupa". Kepada siapa teguran itu disampaikan? Tentunya kepada kita semua.
"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa" (QS 06: 44). Dalil teologis ini harusnya diamini banyak pihak supaya jangan sampai rangkaian malapetaka itu mengesankan negeri ini penuh dengan pelupa. Mudah melupakan dan enggan memikirkan langkah lanjut agar bencana dan musibah serupa tidak terulang.
Padahal, sebab bencana dan musibah harusnya bisa dipahami. Banyak musibah yang terjadi tidak lain karena perilaku buruk dan merusak yang ditunjukkan oleh manusia. Dalam Al Qur'an diterangkan: "Dan apa saja musibah yang menimpa mu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan mu sendiri" (QS 42: 30).
Terganggunya keseimbangan alam yang bisa menimbulkan bencana merupakan sunatullah yang sudah sama-sama diketahui bersama. Namun karena kerakusan manusia, hal itu sering dilanggar dan diabaikan. Pembabatan dan pengrusakan hutan akan mengundang berbagai bencana. Sumber-sumber air pun mengering. Bencana kekeringan lalu datang atau sebaliknya, bencana banjir dan longsor akan menghadang.
Masalah kemiskinan, musibah busung lapar dan gizi buruk terjadi lebih karena distribusi kekayaan yang buruk di tengah-tengah masyarakat. Padahal Indonesia ini sangat kaya-raya. Jika bukan karena kesalahan manusia Indonesia dalam mengelola kekayaan ini tidak mungkin terjadi kemiskinan, apalagi kelaparan. Contoh lain dari sikap buruk manusia adalah kecelakaan sarana transportasi umum. Seperti sering dikatakan, sejumlah kecelakaan laut dan udara terjadi karena sarana transportasi itu kelebihan muatan atau karena kelayakan operasionalnya tidak dicek secara teliti. Sebab lain adalah "human error".
Jika salah satu sebab musibah adalah kelalaian manusia, tentunya kita didorong untuk mencari tahu bagaimana agar malapetaka serupa tidak terulang lagi di masa depan. Setiap musibah, bencana atau kecelakaan yang terjadi harusnya memotivasi kita untuk mau belajar dari apa yang sedang atau telah terjadi, guna mendapat terang bagi apa yang kita lakukan selanjutnya. Memprediksi kemungkinan terjadinya bencana-bencana susulan serta meminimalkan jumlah korban ketika bencana itu terjadi.
Sayangnya berbagai peristiwa silam yang sebenarnya memberikan kesempatan bagi bangsa ini untuk belajar dibiarkan lewat begitu saja. Apa yang terjadi, seolah-olah ditumpuk di ruang yang diberi nama "sejarah" untuk kemudian ditutup pintunya dan dilupakan. Keengganan belajar dari pengalaman sejarah memang merupakan "penyakit klasik" yang diderita bangsa ini. Padahal, mempelajari masa lalu itu penting bukan hanya sebagai bagian dari mata ajar resmi di bangku pendidikan, tetapi penting pula bagi keselamatan bersama. "Historia vitae magistra". Sejarah atau pengalaman adalah guru yang terbaik.
Semoga berbagai bencana dan musibah yang terjadi di Tanah Air dewasa ini tidak membuat kita berkecil hati, melainkan mendorong kita untuk "sadar diri" dan terus belajar demi menghindari kemungkinan datangnya musibah atau bencana serupa di masa depan. Hanya dengan jalan itulah barangkali kita akan mampu ke luar dari kesulitan (QS 13:11). Wallahu a'lam bi ash-shawab.***
*) Penulis, Guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pontianak. Alumnus Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (syamsul_kurniawan@yahoo.com)
Rabu, 02 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar