Oleh : Aspari Ismail
Rasul Muhammad SAW merupakan figur teladan bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Sehingga hari kelahiran beliau selalu diperingati dan telah menjadi tradisi agung (grand tradition). Namun sering kali peringatan semacam ini hanya bersifat 'seremonial' belaka. Tak lebih dari sekedar menunaikan 'kewajiban' rutinitas budaya. Hal ini tidak lepas dari memudarnya kekuatan kontekstual dari peringatan maulid.
Jika kita telusuri sejarah, maka ada banyak hal yang mesti kita contoh dari kepribadian Rasul Muhammad saw, guna kita implementasikan kepribadian beliau dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, atau dalam lingkup yang lebih kecil adalah kehidupan keluarga. Sehingga dari peringatan kelahiran Muhammad saw kali ini, tidak hanya sekedar ritual semata. Tetapi bagaimana peringatan maulid saat ini kita jadikan moment untuk merubah diri menjadi semakin baik.
Sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi, beliau telah dikenal karena kesholehannya, kejujurannya, dan sifatnya yang dapat dipercaya. Sehingga beliau diberi gelar al-Amin (orang yang terpercaya). Hal tersebut menunjukkan betapa tinggi reputasinya. Sampai saat ini, Muhammad saw diposisikan sebagai orang nomor Wahid yang berpengaruh di seantero dunia oleh para ahli ternama.
Sebagaimana yang dikutip oleh Jamil Ahmad (2000), Thomas Carlyle mengatakan bahwa, Nabi Muhammad adalah seorang yang jujur. Jujur dengan apa yang beliau katakan dan jujur dengan apa yang beliau lakukan. Rasul merupakan orang yang pendiam dan berbicara seperlunya. Rasul berpesan kepada umatnya agar berbicara seperlunya saja, atau kalau tidak bisa lebih baik diam. Pesan ini sangat beralasan, sebab sudah banyak kejadian, gara-gara mulut dan salah ngomong, dapat mengundang terjadinya percekcokan, perkelahian, permusuhan, pembunuhan dan lain-lain. Karenanya sebelum berbicara kita mesti berfikir apakah pembicaraan kita tersebut dapat membuat orang tersanjung atau malah tersinggung dengan kata-kata yang kita keluarkan.
Dalam kehidupan yang penuh dengan kompetisi saat ini, sangat sulit untuk mencari orang yang jujur. Kejujuran menjadi suatu hal yang langka. Ketidak jujuran dalam berbagai bentuknya, nyaris dapat ditemui pada semua lapisan masyarakat dan dalam berbagai dimensi kehidupan; politik, ekonomi, sosial dan agama.
Dunia politik misalnya, para politisi seringkali terfokus pada perebutan kekuasaan, terutama pada Pemilu 2004 yang lalu dan khususnya menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) nanti. Suara lantang disaat kampanye berjanji akan memperhatikan masyarakat miskin, melakukan perubahan dan jutaan janji manis lainnya. Tetapi setelah duduk dikursi yang empuk, mereka lupa dengan janji-janji yang disampaikan. Bahkan mereka tak canggung melakukan segala cara untuk meraih kursi panas tersebut. Ambil contoh, tidak sedikit disaat Pemilu 2004 kemarin, para calon wakil rakyat melakukan kebohongan public dengan cara pemalsuan ijazah, pemalsuan tandatangan dan perbuatan busuk lainnya.
Pribadi seorang muslim dalam bertindak hendaknya dilakukan dengan berfikir terlebih dahulu baru kemudian berbicara. Kita mesti mafhum bahwa jika kita sekali saja berbohong, maka kita akan melakukan kebohongan yang kedua kalinya untuk menutupi kebohongan pertama, dan demikian seterusnya.
Kemudian setelah Muhammad saw ditunjuk menjadi Nabi, beliau memproklamirkan kekuasaan Tuhan (Tauhid) dan membebaskan manusia dari perbudakan. Dia kemudian mengangkat martabat manusia dan mempraktekkan suri tauladan melalui ajaran persamaan, persaudaraan, kebebasan, dan keadilan. Dengan nilai-nilai ketauhidan, manusia dituntut mampu menciptakan tata hidup yang lebih bermoral, bebas dari segala penindasan dan eksploitasi nilai kemanusiaan. Karena penyimpangan terhadap nilai kemanusiaan orang lain sama dengan merenggut dan "memperkosa" nilai kemanusiaannya sendiri (Singgih Nugroho : 2003). Lebih lanjut Nugroho, meminjam pendapatnya Mansour Faqih yang mengatakan bahwa konsep masyarakat Tauhid dalam perspektif teologi kaum tertindas adalah suatu konsep penciptaan masyarakat yang mengandung tiga ciri yakni; masyarakat tanpa eksploitasi, masyarakat egaliter tanpa dominasi, dan masyarakat tanpa dominasi gender.
Cita-cita mulia ini masih sangat sulit untuk diwujudkan. Seringkali kita saksikan di media massa, banyak para buruh yang di PHK, celakanya lagi hak mereka dari hasil kerja membanting tulang, sering diabaikan. Kemudian dalam demokrasi, kita masih terjebak dan berkutat pada term putra daerah dan sebagainya, sedangkan kekerasan terhadap perempuan masih merajalela. Seperti yang dialami oleh para tenaga kerja wanita (TKW) di negara tetangga. Kemudian jika kita amati di perempatan lampu merah, eksploitasi wanita juga masih terjadi. Mereka mengemis di tengah teriknya matahari dan di selimuti dinginnya malam demi mencari sesuap nasi. Bahkan tragisnya ada juga yang menyertakan anak bayinya.
Peringatan Maulid Nabi kali ini, menjadi momentum yang tepat untuk melahirkan kembali umat Islam yang jujur, amanah, mengutamakan persamaan, menjaga persaudaraan, menghargai kebebasan, dan berlaku adil. Saat yang pas untuk membumikan kepribadian Rasul dalam kehidupan sehari-hari. Semoga.**
*) Penulis adalah Mahasiswa STAIN dan Mantan Sekum HMI Cabang Pontianak
Rabu, 02 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar