Rabu, 02 Juli 2008

Meretas Involusi Gerakan Intelektual Kader HMI

Oleh: Suhaimi

TANGGAL 25 hingga 27 Mei 2006 yang lalu, Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Kalimantan Barat menyelenggarakan MUSDA IV di Pontianak, sebagaimana layaknya sebuah forum tertinggi organisasi, tentunya momentum ini merupakan sarana yang efektif untuk menyuarakan aspirasi dan mendialogkan persoalan-persoalan yang terdapat dalam tubuh organisasi kemahasiswaan ini. Persoalan yang paling mendasar adalah bagaimana mempertahankan serta melanjutkan gerakan intelektual ini dalam komunitas HMI.

Persoalan bagaimana mempertahankan dan melanjutkan gerakan intelektual di kalangan HMI ini sungguh sangat mendasar karena hal ini menyangkut citra dan masa depan organisasi. Sebab bagaimanapun juga, sejarah telah mencatat bahwa hampir seluruh dinamika intelektual muslim dalam mengartikulasikan dan memformulasikan Islam dalam kancah kehidupan masyarakat modern dewasa ini, tidak dapat dipisahkan dari produk dan kontribusi yang telah dihasilkan oleh organisasi ini. Munculnya gerakan pembaharuan Islam pada tahun 70-an merupakan prestasi besar HMI.

Dalam konteks sejarah pembaharuan pemikiran Islam dan peletakan dasar-dasar tradisi intelektualisme di kalangan kaum muda Islam, HMI bukan saja melahirkan benih-benih pembaruan Islam, akan tetapi lebih dari itu organisasi ini merupakan barometer dari perkembangan tradisi dan gerakan intelektual generasi muda Islam.

Apa yang diutarakan diatas kiranya tidaklah berlebihan. Pada tahun 70-an saat orde baru sibuk mengadakan restrukturisasi politik dalam menunjang pembangunan, anak-anak muda yang tergabung dalam himpunan, dan angkatan muda Islam tampil mengedepankan konsep-konsep keagamaan secara mendalam. Mereka hadir untuk menyuarakan sikap optimis tentang kemampuan Islam untuk menyongsong perkembangan masa depan bangsanya, sehingga sejarahpun mencatatnya sebagai gerakan pembaruan dalam Islam.

Gerakan pembaruan ini dipelopori oleh Nurcholis Madjid, Djohan Effendi, Dawam Rahardjo, Ahmad Wahib dan lain-lain. Untuk kemudian mereka diharapan oleh umat untuk melanjutkan kegiatan intelektualitasnya agar semakin luas. Dari sini muncul citra kelompok reformasi yang melekat pada HMI. Suatu citra yang memberika kebanggaan tersendiri pada anggota dan gerakan muda Islam lainnya. Mereka mampu membangun tradisi dan gerakan intelektual yang membuka lebar-lebar jendela pembaruan.

A. Involusi Gerakan Intelektual

Dengan berkaca pada realitas kekinian, adalah sangat sukar untuk memahami mengapa gerakan intelektual dalam HMI yang telah dirintis kemudian memudar atau mengalami kemandekan (Involusi).

Kenyataan ini memberikan gambaran bahwa tradisi intelektual pada kalangan angkatan muda Islam, lebih-lebih pada komunitas HMI. Sekalipun sebenarnya persoalan ini tidak hanya muncul di HMI saja, akan tetapi ini juga merupakan bagian dari persoalan organisasi kemahasiswaan yang lainnya, yang sampai hari menjadi PR bagi semua kita, oleh karena itu persoalan ini sungguh sangat memprihatinkan kalau tidak mau di katakan sedang rapuh.

Kemandekan gerakan intelektual Islam di kalangan organisasi kemahasiswaan terutama HMI, setidaknya disebabkan oleh dua faktor, Pertama, ketergantungan yang sangat tinggi terhadap figur-figur atau senior-senior HMI, sebutlah seperti Nurcholis Madjid Cs, sehingga para kader HMI khususnya kehilangan kreativitas dan inovasi-inovasi yang baru sesuai dengan konteks zaman. Kedua, kesalahan HMI dalam merumuskan persoalan yang dihadapinya. Hal ini bisa kita lihat bagaimana ketika HMI mengambil untuk melakukan pemberantasan buta huruf Al-qur'an, menggelar kegiatan yang bersifat karikatif seperti Bhakti sosial dan aktivitas dakwah yang terkadang tidak subtantif. Akibat pemilihan persoalan yang tidak strategis tersebut, HMI bahkan kehilangan isu-isu besar salah satu contoh misalnya melakukan pembaruan pemikiran Islam atau menempatkan agama sebagai pemersatu atau perekat umat.

HMI tampaknya lebih asyik dengan training-training formal, sekalipun tidak juga perlu dinafikan training tersebut merupakan roh yang menentukan hidup matinya organisasi ini, lebih-lebih HMI sebagai organisasi kader. Pada akhirnya isu-isu besar tersebut diambil atau bahkan garap oleh kelompok-kelompok studi kemahasiswaan, mereka tampil dengan menyuarakan isu-isu keprihatinan terhadap persoalan sosial kemasyarakatan, sementara HMI tenggelam dengan isu-isu lokal yang bersifat karikatif, kesalahan dalam memilih lahan garapan inilah menurut saya membuat organisasi (baca : HMI) mengalami involusi gerakan intelektual yang cukup mendalam.

B. Reorientasi dan Antisipasi

Oleh karena itu, untuk mengembalikan citra HMI sebagai duta pembaruan dan melanjutkan gerakan intelektual yang mantap diperlukan reorientasi baru guna merumuskan agenda baru untuk membangun kembali citra HMI sebagai suta pembaruan. Agenda tersebut diperlukan mengingat HMI yang tampil dengan pandangan-pandangan yang eksklusif, reaksioner dan berifat parsial. Ada khawatiran saya bahwa HMI tidak akan mampu mengambil bagian dalam pengembangan wacana-wacana untuk masa yang akan datang.

Agenda yang dimaksud adalah bagaimana melakukan reorientasi terhadap program-program kerja HMI seperti visi kepedulian sosial dan reorientasi pengkaderan. Orientasi program kerja HMI adalah bagaimana mengembalikan semangat dan tradisi intelektual. Konsekuensinya adalah HMI harus berani merampingkan kegiatan-kegiatan seremonial, bhakti sosial yang bersifat parsial, akan tetapi harusnya lebih bersifat inovatif dengan mengembangkan etos kerja yang lebih dinamis, kreatif dan progresif.

Visi kepedulian sosial HMI haruslah merupakan perpaduan antara semangat kritis agama dengan visi nasionalisme modern yang tidak picik, rasialis, dan sekterian. Sedangkan reorientasi pengkaderan adalah bagaimana mengefektifkan mekanisme pengkaderan melalui Latihan Kader (LK), selain juga yang lebih penting adalah melakukan pelatihan informal akan tetapi memiliki akses dan interaksi intelektual yang dinamis dan kreatif.

Oleh sebab itu sudah saatnya pola pengkaderan kita di ramu ulang dengan melakukan pembinaan terhadap anggota berdasarkan minat dan disiplin ilmu yang ditekuninya. Dalam kontek ini lembaga kekaryaan, bisa lebih kreatif untuk melakukan berbagai inovasi kegiatan yang lebih berbobot, sehingga terwujud interaksi intelektual yang intens dan lebih terarah.

Persoalannya bukan tidak ada kesempatan bagi HMI untuk mengembalikan citra dan gerakan intelektual sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para senior HMI, melainkan sejauh mana kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh kader-kader himpunan mampu menampung, mengevaluasi serta merumuskan agenda dan program kerja sesuai dengan nafas dan misi pembaruan HMI. Inilah barangkali persoalan yang perlu direnungkan dan dipersiapkan oleh kader HMI. Akankah setiap kegiatan HMI di Kalimantan Barat kali ini mampu menampung dan merumuskan agenda gerakan intelektual baru atau hanya sebatas ritualitas organisasi. Hanya mahkamah sejarahlah yang akan menghakiminya.

Karenanya agar hasil-hasil musda tersebut tidak menjadi sebuah dialektika yang penuh dengan rekayasa dan kamuflase, maka dipandang perlu disusun sebuah kelompok yang menjadi orginizer dalam rangka mewujudkan cita - cita mulia seperti yang tercover dalam asas dan tujuan HMI itu sendiri.

Terakhir saya ucapkan selamat kepada saudara ichfany semoga bisa menjadi pemimpin yang tegar dan tabah untuk berjuang demi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan. Seuai dengan visi awal berdirinya HMI. Go ahead HMI.!!

(penulis: Mantan Pengurus Badko HMI Kalbar)

0 komentar: