Oleh: Syamsul Kurniawan MR*)
Peristiwa-peristiwa menggugah moral nurani kita, seperti pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan dan bentuk-bentuk kekerasan kriminal lainnya merupakan tema krusial yang seolah-olah tidak pernah "basi" dibicarakan di koran-koran. Peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang mengejutkan syaraf dan membuat kening siapa saja berkerut. Sepertinya pendidikan formal belum mampu menumbuhkan moralitas generasi penerus bangsa ini, buktinya, kekerasan dan penganiayaan masih menjadi "makanan" sehari-hari kehidupan kita.
Pertanyaan mendasar yang menuntut beban untuk segera dijawab adalah, siapa yang akan bertanggung jawab dengan masa depan moralitas bangsa ini?. Entah siapa yang lebih berperan, penguasakah, lembaga-lembaga agama atau justru seluruh elemen bangsa ini?.
Penipuan dan korupsi makin merajalela, seorang anak bisa saja memperkosa ibu kandungnya, bapak menghamili anak kandungnya, seseorang bisa saja membunuh kekasihnya karena cemburu, angka pencurian makin meningkat, pelecehan seksual di lokasi kerja dan pengungsian, juga kasus perdagangan anak dan woman trafficking yang makin terorganisir. Hal ini menunjukkan ada yang perlu diluruskan dalam pola kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini. Kesannya kekerasan dan penganiayaan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Kekerasan dan penganiayaan telah menyejarah dalam kehidupan manusia. Sungguh sangat memprihatinkan.
Dimanakah moralitas yang selama ini selalu didengungkan lewat petuah kyai di mesjid, atau pendeta ketika melakukan misa?. Apakah hanya milik kaum rohaniawan saja, yang setiap kali mulutnya berbusa dan banyak beretorika tentang menghargai, mengasihi dan mencintai sesama?. Dimanakah cinta, yang selama ini selalu menyelimuti jantung dan denyut nadi kita?. Cinta yang senantiasa membuat dunia ini sejuk dan membuat kita selalu ingin terus hidup.
Eksploitasi asmara dan cinta pada era globalisasi industri sekarang ini bergerak bukan semata untuk pemuasan rindu dan dendamnya orang bercinta, tapi murni untuk tujuan ekonomi, bahkan menjadi industri, yakni industri cinta. Majalah dengan cerpen-cerpen dan kisah-kisah nyata, novel-novel, komik, musik, film, telenovela, serial drama, VCD (ingat: kasus video mesum Maria Eva dan Yahya Zaini), bahkan asmara dan cinta merupakan topik yang digemari dalam menawarkan penjualan industri periklanan (advertising). Tentu saja hal ini dipicu oleh semakin canggihnya perangkat buatan manusia, yakni teghnologi. Teghnologi secara tanpa disadari telah menggerus moralitas kita. Media elektronika berlomba-lomba menjejali kita dengan tayangan-tayangan yang sangat memprihatinkan moral bangsa. Meski tayangan tersebut dibungkus rapi dengan tema-tema cinta.
Perkembangan pemikiran manusia dalam melakukan inovasi dalam melakukan inovasi untuk mempermudah hidupnya, secara tidak sadar telah menjerumuskan generasi berikutnya ke dalam suatu ruang yang sangat bebas dan kadangkala melupakan etika dan batasan-batasan moral. Dari sisi positifnya, perkembangan ilmu dan teghnologi telah meningkatkan peradaban manusia. Apa-apa menjadi mudah. Sedangkan sisi negatifnya, peradaban manusia sekarang ini telah menempatkan seseorang untuk lebih mudah mendapatkan stimulus yang dapat merusak moral dan jiwa manusia. Dampak yang nyata adalah semakin maraknya pornografi dan perilaku seks yang bebas, yang banyak memicu tindakan kriminal lainnya seperti perkosaan, penggilasan, penganiayaan bahkan pembunuhan. Adakalanya manusia khilaf akan harga diri dan nyawa jikalau sudah dibelenggu oleh hasrat dan nafsu seksualitas sesaat.
Bentuk dan wacana yang disebut Michael Foucoult sebagai seksualitas (dalam buku The History of Sexuality) muncul akibat lepasnya seks dari keluarga. Urusannya adalah dengan kenikmatan pribadi yang tersembunyi, ekses-ekses berbahagia bagi tubuh, fantasi-fantasi rahasia. Seksualitas dipandang sebagai hakikat dasari dari manusia individual dan inti dari identitas personal. Melalui perantaraan dokter, psikiater, sahabat dan orang lain yang kepadanya seseorang mengakui praktik-praktik dan pikiran pribadi menjadi mungkin untuk mengetahui rahasia tubuh dan pikiran orang itu. Personalisasi, medikalisasi dan signifikansi seks yang muncul pada suatu saat historis inilah yang menurut Foucoult menjadi dasar penyebaran seksualitas.
Penyaluran seksualitas yang salah telah menyebabkan peradaban kontemporer semakin diwarnai oleh kebebasan seks yang menggila. Semuanya hendak diseksualitaskan: mode, busana, iklan, hiburan dan pola pikir. Prahara seksual telah menjadi salah satu unsur nestapa peradaban. Manusia yang telah terdehumanisasikan, jiwanya semakin mongering akibat menebalnya berbagai pelanggaran terhadap norma dan agama. Dikira bakal meneguk kenikmatan sejati, alih-alih malah memperbesar borok rohani dan memperburuk wajah moralitas kemanusiaan.
Seberapa burukkah moralitas bangsa kita? Bangsa ramah seolah-olah dongeng masa lalu bangsa ini, senyuman yang menjadi modal bangsa ini diganti dengan hardikan, marah membabi buta, dengki, cemburu dan bahkan untuk memuaskan diri seseorang rela mencabut nyawa sesamanya. Sepertinya perlu sebuah cermin yang diperlukan untuk menilai seberapa sakitnya moralitas yang diderita bangsa ini. Saya tidak tahu cermin seperti apa yang pantas merefleksikan wajah bangsa ini.
Namun yang jelas, ada "Sang Pembuat Cermin Kehidupan" yang senantiasa mengawasi gerak dan denyut kebersamaan kita. Bukankah semua manusia akan mempertangung-jawabkan semua perbuatan yang dilakukan selama hidupnya dihadapan Tuhannya. Firman Allah SWT di dalam Al Qur'an: "Barang-siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang-siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula" (QS Al-Zalzalah/ 99: 7-8). Wallahu'alam bisshowab.***
(Penulis, Pemerhati Sosial-Keagamaan- Jalan Tanjung Raya II Gang Kurnia Jaya No 1 Pontianak Timur Kota Pontianak).
Rabu, 02 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar