Rabu, 02 Juli 2008

Mudik Akhirat

Oleh Ichwani. AS

MUDIK menjadi fenomena menarik. Mudik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan pulang kampung. Pulang kampung halaman yang sudah lama di tinggal merantau untuk bekerja ke kota metropolitan yang memiliki gengsi besar ketimbang dalam kota sendiri yang sedang "kembang kempis" menghirup udara persaingan globalisasi, bale' (bahasa melayu Pontianak) ke tanah kelahiran yang ditinggal hijrah ke negeri orang lain untuk megadu nasib mencari nafkah dan mengumpulkan penghasilan tambahan karena di negeri sendiri tidak bisa memberikan kejelasan atas nasib para rakyatnya.

Mudik ketempat orang tua berdomisili karena sudah lama tidak bertemu ingin melepas rindu akibat kesibukan aktivitas yang tidak bisa ditinggalkan. Begitulah kira-kira alasan orang ketika ditanya tentang mudik. Paling tidak tradisi mudik ini memiliki romantisme tersendiri. Romantisme itu adalah keharusan kembali ke rumah, ke kampung halaman tempat persinggahan hidup dulu untuk bertemu orang tua beserta sanak famili dan handai taulan untuk berkumpul dan bercengkraman bersama dalam ikatan silaturahmi dan kasih sayang setelah sekian lama tidak bertemu dalam kurun waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Acara mudik pun biasanya dipersiapkan sangat spesial dan meriah. Jauh-jauh hari sudah diagendakan apa-apa saja oleh-oleh yang harus dibeli dan di bawa serta dibagikan kepada para sanak keluarga. Tak kalah penting adalah mempersiapkan cerita pengalaman (berita-berita) bahagia yang dialami selama meninggalkan tempat kelahiran untuk diceritakan kepada para kerabat. Terkadang saking larutnya dengan persiapan mudik banyak orang yang lalai dan mengabaikan ritual-ritual yang biasa dilaksanakan selama Ramadhan.

Tak jarang juga kita menemukan ada orang yang mudik kekampung halamannya hanya ingin menunjukkan kelebihan (pamer) atas keberhasilan yang ia peroleh di kampung orang lain yang tidak ia peroleh di kampung halamannya.

Mudik betapa besar pun resiko yang harus ditempuh-orang tetap berusaha dan bersusah payah untuk mengupayakan agar mudik tetap terlaksana dan berhasil sampai ketujuan. Apalagi dengan orang yang benar-benar rindu akan kampung halamnnya, maka ia akan tetap bersih kokoh agar lebaran kali ini bisa hadir di tengah-tengah keluarganya. Bagaimana tidak, semangat orang untuk mudik ini bisa kita lihat dari frekuensi padatnya penumpang kendaraan baik darat, udara maupun laut. Jumlah yang mudik pun tidak sedikit kita bisa menyaksikan betapa banyak orang mengunjungi tempat-tempat kendaraan/angkutan. Kita bisa melihat di stasiun kereta api, terminal-terminal induk bus, bandara, dermaga atau pelabuhan yang menyediakan alat transportasi. Orang rela antre berjam-jam bahkan ada yang sampai seharian, berdesakan dengan kondisi tubuh yang kegerahan dan tak jarang ada yang rela menginap di tempat-tempat loby demi memperoleh selembar kertas "ajaib" yang langka untuk didapati agar bisa pulang kampung bertemu keluarga. Padahal kondisi pada sebelum dan atau awal Ramadhan keadaannya biasa-biasa saja alias normal bukan abnormal (baca: tiket).

Rangkaian mudik ini selain menunjukkan kuatnya ikatan kekelurgaan, juga berdampak kepada roda ekonomi berputar deras/laju, bagaimana tidak secara spontan perputaran dan peredaran uang yang sangat meningkat baik di kota maupun di desa akan berpengaruh kepada stabilnya perekonomian kerakyatan meskipun sifatnya hanya sementara/sebentar.

Mudik ke kampung halaman untuk melepas rindu-ingin ketemu orang tua beserta sanak kelurga, ingin bersilaturrahmi dengan tetangga serta ingin bercanda dan tawa dengan teman sebaya sekampung yang sudah lama tak di rajut hanya bisa dinikmati secara lahiriyah saja. Apa yang telah diuraikan di atas sebenarnya hanyalah gambaran umum bagaimana usaha dan manfaat yang dirasakan dari usaha yang telah dilakukan manusia dalam meraih keparipurnaan hakikat mudik ke kampung halaman. Perjalanan mudik yang tergambar itu hanya bersifat sementara dan tidak kekal. Ada yang lebih penting untuk di raih dalam kehidupan ini yaitu mudik akhirat. Mudik secara lahiriyah juga bisa diartikan secara ruhiyah dimana pada momen ramadhan sebenarnya banyak hal-hal yang akan di perbuat dalam mengisi pembekalan dan pembendaharaan dalam menuju mudik akhirat. Disamping memiliki esensi yang sama antara keduanya, mudik lahiriyah juga memberikan kiasan kepada manusia bagaimana persiapan yang harus dilakukan untuk menuju mudik akhirat. Kita bisa melihat bagaimana cerminan dari esensi shaum ramadhan yang memiliki begitu banyak makna yang tak terhitung jumlahnya. Berjuta nikmat yang bisa kita rasakan pada ramadhan ini membuktikan bahwa apa yang telah dijanjikan Allah dalam Kitab-Nya benar-benar ada dan terbukti "Jika lautan menjadi tinta dan pepohonan menjadi kalam untuk mencatat ilmu (nikmat)-Nya maka tidaklah cukup meskipun ditambah dengan tujuh kali banyaknya". Ramadhan sudah seyogyanya menjadi barometer pendobrak batiniyah dalam mencari kepuasan spritual dalam mewujudkan mudik akhirat yang khusnul khotimah.

Pengembaraan panjang yang telah dilakukan dalam mengisi dan menghiasi kehidupan dunia yang syarat dengan kefanaan sudah barang tentu berpijak kepada muara akhir yang sudah pasti terjamin sifat kekekalannya dalam menuju Sang kekasih sejati (meminjam istilah Rabi'atul Adawiyah) Allah aza wajalla. Hal paling vital yang mesti diperhatikan-dibenahi untuk dipersiapkan sematang mungkin tanpa ada pengecualian. Pulangnya seorang hamba ke kampung akhirat sebagai tujuan akhir di dunia sementara ini harus diprioritaskan tanpa mengenyampingkan urusan duniawi agar terjadi keseimbangan universal. Ramadhan sebentar lagi meninggalkan kita yang didalamnya terdapat kemulian, keberkahan dan ampunan-Nya menjadi tonggak awal untuk memperbaiki pribadi-introspeksi diri dan senantiasa mempertebal kualitas keimanan serta ketaqwan kepada Allah. Bulan penuh ampunan dan penerimaan ikrar pertobatan hamba-Nya tanpa harus mengulangi perbuatan yang melanggar nas-nas agama banyak dipanjatkan dan itu di jamin Sang Maha Pencipta dengan ganjaran lebih tanpa ada yang bisa menandingi.

Apa yang telah dilakukan di bulan Ramadhan, paling tidak sebagai bekal persiapan kita umat-Nya dalam melanjutkan perjalanan final kehidupan yakni mudik akhirat. Usaha yang telah dipersiapkan tersebut paling tidak mempunyai maksud dan tujuan yang pasti yakni sebagai bekal-oleh-oleh yang harus dibawa keharibaan-Nya yang kita tidak tahu pasti kapan datang untuk menghampiri kita. Ramadhan sebagai bulan perdagangan amal dan lahan penanaman manifestasi kehidupan yang akan kita nikmati kelak sudah semestinya menjadi puncak prestasi menuju kejayaan hidup di dunia dalam menghadapi mudik akhirat yang kekal abadi silih berganti tanpa pandang bulu menjemput setiap mahluk hidup (manusia) ciptaan-Nya. Wallhu'alam Bishawab

*) Penulis adalah Mahasiswa STAIN dan Aktivis HMI Cabang Pontianak

0 komentar: