Oleh: Aspari Ismail
ADA beberapa hadis Rasulullah SAW tentang anjuran untuk menghormati kedua orangtua, khususnya Ibu. Salah satu diantaranya berbunyi "surga berada di telapak kaki Ibu". Mengingat hampir tak ada seorangpun yang lahir ke muka bumi ini (secara normal) tanpa dilahirkan dari seorang Ibu. Perjuangan seorang ibu sangat berat. Sejak mengandung selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari, kemudian melahirkan berjuang sekuat tenaga di tengah keterbatasan yang dimilikinya. Setelah itu menyusui dan membesarkan sang buah hati dengan penuh kesabaran sepanjang zaman. Maka menurut hemat penulis seorang ibu pantas untuk mendapatkan predikat "surga di telapak kaki Ibu".
Suatu ketika sahabat bertanya kepada Baginda Rasul. "Siapakah yang harus diturutinya terlebih dahulu". Rasul menjawab "ibumu" sebanyak tiga kali, kemudian baru ayahmu. Ketika anak masih kecil dalam kandungan, ibu diperintahkan untuk memperhatikan kesehatannya. Karena, kesehatan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin, bahkan ada kewajiban agama yang digugurkan (ditangguhkan) pelaksanaannya seperti puasa, apabila pelaksanaannya mengganggu janin (Quraish Shihab, 2004:255). Hal tersebut menunjukkan betapa Islam sangat menghargai seorang perempuan.
Kasih sayang orang-tua untuk anak selama-lamanya. Sebagaimana sebuah pepatah menyatakan "kasih sayang orang tua sepanjang jalan, kasih sayang anak sepanjang galah". Ridhanya Allah Swt bergantung kepada ridhanya kedua orangtua kita demikian sebuah hadist yang mengingatkan seorang anak manusia untuk mematuhi kedua orang tuanya selama perintah orang tuanya tidak bertentangan dengan perintah Allah SWT. Karena itu sudah sepatutnya perjuangan dan pengorbanan seorang ibu dibalas dengan kehangatan cinta kasih seorang anak. Sayangnya, kemuliaan seorang ibu sebagai "tiang negara" di kotori oleh perbuatan mesum segelintir kaum ibu lainnya. Ada hal yang mengganjal di pikiran saya ketika melihat kehidupan sosial-masyarakat Indonesia. Akhir-akhir ini kita telah diakrabkan dengan berita di media cetak maupun elektronik tentang seorang bayi yang dibuang di selokan, tempat sampah dan lain sebagainya.
Tak jarang kondisi bayi tersebut sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Bayi itu merupakan hasil dari perbuatan sepasang anak manusia yang melakukan hubungan di luar nikah. Biasanya dilakukan oleh kalangan remaja bahkan di lakukan oleh ibu-ibu dari hasil perselingkuhan. Pendek kata, bayi tersebut lahir tanpa seorang ayah. Demikian informasi yang kita dapat dari pengakuan pelaku atau dugaan polisi. Karena itu kita pantas menanyakan kembali apakah ibu yang tega membuang darah dagingnya sendiri itu surga berada di telapak kakinya?. Menurut hemat penulis, seorang ibu yang sangat kejam dari binatang itu justru menciptakan neraka di telapak kakinya sendiri! Menyambut moment hari Ibu pada 22 Desember 2005 ini saya ingin mengingatkan kepada pembaca untuk selalu mencintai, menyayangi dan menghormati kedua orangtua khususnya Ibu. Karena doanya seorang Ibu sangat makbul. Jangan sampai kita menjadi orang yang durhaka kepada kedua orang tua. Selain itu untuk menghindarkan anak dari perbuatan free seks dan perbuatan yang melanggar ajaran agama dan susila, maka hendaknya si buah hati diberikan pendidikan agama dan moral yang dimulai dari keluarga.
Quraish Shihab (2004) menjelaskan keluarga adalah "umat kecil" yang memiliki pimpinan dan anggota, mempunyai pembagian tugas dan kerja, serta hak dan kewajiban bagi masing-masing anggotanya. "Umat besar" atau satu negara demikian pula halnya. Al-Qur'an menamakan satu komunitas sebagai umat, dan menamakan Ibu yang melahirkan anak keturunan sebagai umm.
Kedua kata tersebut terambil dari kata yang sama. Ibu yang melahirkan di pundaknya dibebankan pembinaan anak dan kehidupan rumah tangga merupakan tiang umat, tiang negara dan bangsa. Karena waktu Ibu lebih banyak dibandingkan dengan ayah yang bekerja di luar rumah. Dari rumah tangga yang baik, maka akan melahirkan warga negara yang baik pula. Sehingga dengan pendidikan agama dan moral maka putra-putri kesayangan menjadi generasi penerus yang dapat dibanggakan. Terima kasih ibu, semoga Allah SWT membalas segala pengorbanan dan perjuanganmu dalam mendidik kami. Amin
*) Penulis Mahasiswa STAIN Pontianak dan Mantan Sekretaris Umum HMI Cabang Pontianak
Rabu, 02 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar